Featured Post

Mahasiswa Pemasang Poster 'Garudaku Kafir' Menyesali Perbuatannya

Rektor Universitas Diponegoro, Yos Johan Utama, memerintahkan Dekan Fisip memproses penempel poster 'Garudaku Kafir.'

Edi Syahputra Bunuh Dua Anak Pejabat Abdya karena Kepergok Mencuri

Edi Syahputra (27) warga Kampung Lemah Burbana, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah berurusan dengan polisi karena melakukan aksi pembunuhan sadis di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa (16/5/2017) malam.

Lepas Dari Gosip dengan Ayu Ting Ting, Kini Shaheer Sheikh Tertimpa Masalah yang Hebohkan India

Nama Shaheer Sheikh pernah menjadi perhatian netizen di Indonesia kala ia menjalin hubungan asmara dengan pedangdut Ayu Ting Ting.

Sungguh Sadis, Kurniawan Lakukan Ini Usai Disuruh Guru Ilmu Hitam Minum Darah

Pembunuhan sadis terjadi di Kampung Pasiran Jaya, Kecamatan Dente Teladas, Tulangbawang, Lampung, Rabu (17/5), sekitar pukul 04.30 WIB. Kurniawan alias Engkung tega membacok pamannya, Ujang Hermanto (45), hingga tewas.

Pria Ini Menjajal Rasakan Sakit Melahirkan, Begini Kondisinya setelah 20 Detik

Melahirkan mungkin menjadi saat-saat paling menyakitkan yang harus dilalui seorang wanita.

loading...

Sabtu, 27 Agustus 2016

Di Tilang Karena Tak Bawa Helm, Pengendara Motor Ini Coba Tabrak Polisi



Razia massal dilakukan di gerbang perbatasan Kota Jambi oleh ratusan personel dari berbagai kesatuan di jajaran Polda Jambi pada hari Jumat kemarin sore.

Razia dilaksanakan tepat di gapura perbatasan antara Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi yang mejadi akses Kota Jambi menuju Mendalo.

Selama dua jam waktu berlangsung, sejumlah pengendara motor dan kendaraan roda empat dihentikan oleh petugas kepolisian.

Bahkan beberapa pengendara sempat mencoba menabrak anggota yang bertugas saat berupaya menghentikan kendaraan yang tengah melaju.

Dilansir dari Tribunnews.com, Kompol Mamit S, Kasat Shabara mengatakan "Tadi ada beberapa pengendara sepeda motor yang coba menerobos dan hampir menabrak anggota saya,"

Pada razia tersebut puluhan pengendara sepeda motor terjaring razia. Beberapa di antaranya dihentikan paksa karena tidak mengenakan helm. (wajibbaca.com)
Share:

Jumat, 26 Agustus 2016

Adelia Zahra Gadis Yang Gemar Buka-Bukaan Aurat di Bigo Live, Ternyata Laki-Laki



Sebelumnya gadis cantik yang terkenal karena telah lecehkan jilbab dengan cara buka auratnya itu telah menjadi sorotan para netizen di dunia maya. Lewat aplikasi baru yang masuk Indonesia yaitu Bigo Live yang terdapat di smaartphone Android dan juga iOS, gadis ini buka area terlarang serta menceritakan pengalaman yang tidak pantas melalui akunya.

Namun siapa sangka jika sosok cantik itu bukanlah wanita melainkan seorang lelaki.

Sebagai lelaki, Adelia Zahra merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta yang terletak di Makassar angkatan 2015. Bahkan dari keterangan sang senior diketahui jika pria yang kerap dipanggil Adel ini adalah lelaki yang suka bergaya layakya perempuan.

“Mungkin untuk menutupi identitasnya sebagai laki-laki, dia (Adel) menutupi kepalanya dengan jilbab agar dikira seorang wanita”.

Dari keterangan sang senior diketahui jika Adelia Zahra merupakan mahasiswa asal Kendari, dimana dalam kesehariannya kini ia tinggal di kos kosan. Semua keluarga besar Adelia sendiri diketahui menetap di Kendari semuanya.

Saat ditanya tentang identitas lengkap milik Adel, senior ini mengaku lupa dan akan menanyakannya kembali.

Entah apa yang membuat Adelia Zahra nekat merubah dirinya menjadi perempuan dan kerap buka-bukaan menunjukkan Auratnya di Bigo Live, hingga kini belum ada penjelasan pasti dari pria asli Kendari ini.

Akan tetapi belakangan ini diketahui jika alasan Adelia Zahra melakukan hal terlarang itu dikarenakan masalah ekonomi yang dihadapinya saat ini.

Karena faktor ekonominya itulah sosok Adelia Zahra kerap menampakkan diri di aplikasi Bigo Live. Bahkan pria yang beratribut layaknya wanita ini dengan berani merekam videonya yang tengah menggunakan hijab sembari menunjukkan sebagian auratnya.

Hingga yang paling parah adalah berbicara hal-hal mesum tentang pengalamannya ketika bercinta bersama kekasihnya.

Alhasil tingkah tidak sopan Adelia Zahra yang dinilai melecehkan kaum muslimah itupun mendapat banyak kecaman dari para netters.

“Lepasin tu hijab, malu sama Tuhan neng”.

“Astagfirullah, yg kaya gini yg merusak citra perempuan berhijab”.

Menanggapi hal itu, Adelia Zahra pun membalasnya dnegan kata-kata yang lumayan pedas.

“Lu suruh gue hargai Islam tapi lu sendiri main Bigo. Terus ngapain lu masih lihat-lihat gue? Lu juga dosa, dong”.

Lagi-lagi motif ekonomi dijadikan alasan. Itulah kenyataan, sebenarnya bila tidak ada wadah dan kesempatan maka ia juga tidak akan melakukan hal itu. (wajibbaca.com)
Share:

Cerita Haru Aipda Beni, Demi Membantu Kecelakaan Lalu Lintas, ia Harus Kehilangan Kedua Kakinya



Apa bayangan anda bila mendengar kata polisi. Mendengar istilah tersebut pastinya kita membayangkan sosok yang gagah dan siap untuk menangkap pelaku kriminalitas. Akan tetapi hal berbeda dialami oleh Aipda Beni Hendrik Hernawan(38).

Polisi yang bertugas dibagian Administrasi Lalu lintas di Polsek Rancaekek, Kabupaten Bandung ini tidak bisa menjalankan tugas sebagai polisi yang sebelumnya menjadi kewajibannya, setelah sepasang kakinya harus diamputasi akibat kecelakaan saat bertugas.

Insiden naas tersebut terjadi pada tahun 2005 silam saat bapak dua anak ini bertugas di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung. Saat itu Aipda Beni tengah menangani kasus kecelakaan antara truk dan mobil.



"Ketika itu saya berada ditengah-tengah antara truk dan mobil sedang olah tempat kejadian perkara (TKP), kemudian dari belakang truk, meluncur bus dan menabrak bagian belakang truk," katanya, Kamis (18/6/2015).

Seketika Aipda Beni yang tengah berada diantara truk dan mobil langsung terjepit. "Jadi itu langsung ngepres. Saya disitu masih inget ada di tengah jadi ketahan ditengah-tengah," ucapnya.



Kejadian ini membuat Aipda Beni pingsan dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Cicalengka akibat mengalami pendarahan hebat pada kakinya.

Harus Diamputasi
Parahnya luka yang diakibatkan kecelakaan saat bertugas di Nagreg, Kabupaten Bandung memaksa Aipda Beni Hendrik Hernawan (38) dirujuk ke Rumah Sakit Halmahera karena Rumah Sakit Cicalengka yang sebelumnya menjadi tempat dirawatnya Aipda Beni tidak mempunyai banyak fasilitas memadai untuk bisa memberikan perawatan terbaik.

Bukan berita baik usai Aipda Beni dirujuk ke Rumah Sakit Halmahera. Saat itu dokter yang menanganinya memutuskan untuk mengamputasi kaki sebelah kirinya, alasannya bila tidak dilakukan amputasi maka nyawa Aipda Beni terancam.

"Saya sempat shock dan tidak bicara dengan keluarga. Saya perlu beberapa hari untuk memutuskan hal tersebut karena saat itu belum siap hidup tanpa kaki," tambahnya.

Namun keputusan mengejutkan dilakukan oleh Aipda Beni, dirinya bahkan memutuskan untuk mengamputasi kaki kanannya karena telah mengalami pembengkakan yang hebat. Bagian betis telah membesar melebihi bagian paha. Bukan darah yang menggumpal dan membuat kaki kanannya membengkak, akan tetapi nanah yang terkumpul dan mengakibatkan kaki kanannya membusuk.

"Saya akhirnya memutuskan untuk mengamputasi kedua kaki saya karena yang kanan sudah gak kerasa lagi. Meski dokter belum memutuskan mengamputasi, saya yang meminta. Operasi pertama dan kedua berselang 10 hari," tuturnya.

Keputusasaan. Kalimat itu yang ada dibenak Aipda Beni usai menjalani operasi amputasi. Masa 40 hari perawatan menjadikan dirinya depresi dengan kondisi yang dialaminya saat ini.

"Saya 40 hari dirawat di rumah sakit. Habis itu saya drop mental saya jatuh down dan membuat tidak bisa beraktifitas seperti biasa karena minder dengan kondisi saya seperti itu," jelasnya.

Mengharukan kisah Aipda Beni ini, meskipun disabilitas ia tetap menjalani kehidupan dan tugasnya. Kita yang masih sehat, janganlah berputus asa bila saat ini kondisi materi kita kurang beruntung. Asal kita mau berusaha dan berdoa, maka Allah tak akan begitu saja meninggalkan kita. (wajibbaca.com)
Share:

MIRIS!! Sekolah Ini Usir Muridnya Yang Pakai Jilbab Ini Terjadi di Indonesia

Seorang siswi kelas 5 SD Negeri Entrop bernama Faradila Widy Afini Lokahita diusir dari sekolah cuma lantaran kenakan kerudung (jilbab).

Diskriminasi masihlah menghiasi di beberapa tempat di Indonesia, terlebih diskriminasi pada simbol simbol agama spesifik. Seorang siswi kelas 5 SD yang bernama Faradila ini mesti merasakan pahitnya diskriminasi cuma karena ia menggunakan jilbab. Dan ironisnya kejadian ini terjadi di satu SD negeri yang sama sekali bukan satu sekolah yang khusus untuk agama tertentu.


MIRIS!! Sekolah Ini Usir Muridnya Yang Pakai Jilbab Ini Terjadi di Indonesia

Diusir gara gara berjilbab

Faradila yaitu seorang siswi kelas 5 di SD Negeri Entrop. Pengusiran tersebut dilakukan oleh wali kelasnya yang bernama H. Sirait karena Faradila datang masuk kelas dengan memakai jilbab. Waktu itu Faradila lalu segera pulang kerumah.

Tidak hanya sampai disitu saja, beberapa hari lalu Faradila kembali ditegur tidak untuk menggunakan jilbab serta kembali diusir dari sekolah hingga pada akhirnya ia diultimatum tidak untuk menggunakan jilbab waktu bersekolah.

“Awalnya anak saya diusir pada hari Kamis. Saat itu ia segera disuruh pulang. Saya sendiri tahu saat disuruh jemput anak saya di depan toko, ”

Sang ayah, Iwan bersikeras bila sang anak sekalipun tidak bersalah mengingat Faradila bersekolah di sekolah negeri. Terlebih sang anak sendiri yang memiliki hasrat untuk mengenakan jilbab. Menurut Iwan kerudung tak mengganggu sistem belajar mengajar.
Berkaitan dengan pemberitaan ini akhirnya Kepala SD Negeri Entrop, Barsalina Hamadi memberi
komentarnya, ia membantah bila dianya disebut melakukan pengusiran.

“Saya tidak usir serta saya cuma sampaikan ke siswa kalau kami miliki ketentuan soal seragam di sekolah. Saya meminta tidak untuk berseragam yang lain. Namun bila mau seperti itu (berkerudung, Red) alangkah baiknya bila ia masuk di sekolah yang mengajarkan untuk berkerudung serta ada kajian agamanya, ”


Faradila akhirnya dikeluarkan


MIRIS!! Sekolah Ini Usir Muridnya Yang Pakai Jilbab Ini Terjadi di Indonesia

Setelah sebulan berita mengejutkan kembali datang, Faradila Widy Afini Lokahita seseorang siswi kelas V SD Negeri Entrop Jayapura, Papua akhirnya di keluarkan dari sekolahnya karena masalah ini.

Satu tanda tanya yang begitu besar nampak, kenapa di satu SD Negeri yang sama sekali tidak terkait dengan agama spesifik jadi menerapkan ketentuan seperti ini? Bukannya memberikan sanksi pada guru serta kepala sekolah yang mengusirnya, namun jadi malah keluarkan Faradila dari sekolah. Bahkan surat yang menyatakan bila Faradila di keluarkan dari sekolah diberikan segera oleh Kepala SD Negeri Entrop, Barsalina Hamadi, S. Pd pada Faradila.

Iwan yg tidak terima dengan sikap SD Negeri Entrop Jayapura ini lalu melaporkannya ke Komnas HAM. Pihak Komnas HAM lalu menindaklanjutinya dengan menjumpai segera sang kepala sekolah.

Tetapi warga yang menantikan akhir dari masalah ini ternyata harus kecewa lantaran nyatanya apa yang diperbuat oleh kepala sekolah ini dimaafkan Dinas Pendidikan Kota Jayapura.

Seperti inikah yang namanya toleransi antar umat beragama?

Seperti inikah muka pendidikan yang penuh diskriminasi di bumi papua?


Sumber: RedaksiMuslim.com
Share:

Kasihan, Ibu ini Bersama Dua Balitanya Mencari Suami Hanya Bermodal Foto



Sungguh kasihan nasib seorang perempuan ini. Siti Jamilah, seorang ibu yang berusia 39 tahun, bersama dua orang anaknya yang masih balita. Wanita asal Kampung Caringin RT 08 RW 09 Desa Cisero, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jabar, ini terdampar di Kabupaten Purwakarta mencari suaminya.

Dia tidak henti hentinya menangis karena tidak juga menemukan alamat suaminya yang belakangan diketahui bernama Yanto (45).

Yanto, menurutnya warga Kabupaten Purwakarta. Yang jadi masalah, Siti tidak tahu alamat lengkap suaminya di Purwakarta. Dirinya hanya tahu alamat pria yang dua tahun lalu menikahinya itu tinggal di salah satu desa di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.

“Kedatangan saya bersama dua orang anak saya ini ingin menyusul suami. Tadi siang suami saya pergi meninggalkan rumah tanpa pamit dan mengambil seluruh barang-barang, termasuk surat nikah kami. Saya gak tahu harus mencari suami saya kemana, karena belum pernah tahu dimana alamat suami saya tinggal di Purwakarta. Kata suami saya di Purwakarta juga dia tidak tinggal numpang,” kata Siti dikutip dari Pasundan Ekspres (Jawa Pos Group), Minggu (21/8).

Siti dan dua orang anaknya itu sekarang berada di Kantor Koramil Plered. Warga yang merasa iba melihat balita yang dibawa Siti sudah tampak kelelahan, akhirnya berinisiatif menitipkan ibu dan anak itu ke kantor Koramil agar mereka bisa beristitahat sejenak.

Sebelumnya warga menemukan Siti sedang menelusuri jalan raya di tengah kegelapan malam, dengan menggendong anaknya yang masih berusia 1 tahun bernama M Ramdani dan Desi Pusvita anak sulungnya yang masih balita berisia 4 tahun.

Setiap bertemu orang di jalan, Siti selalu bertanya sambil menujukan secuil foto laki-laki berukuran 3x4cm yang tidak lain merupakan suaminya tersebut. Foto suaminya itu menempel di selembar kertas sertifikat kursus menjahit.

Foto itu, kata dia, merupakan foto satu-satunya yang tertinggalkan suaminya di rumah kontrakannya yang ada di Cicalengka, Bandung.

“Kami dari Garut pindah dan tinggal di Cicalengka sudah tiga bulan. Di Cicalengka saya kerja untuk biaya makan setiap hari dengan mengumpulkan barang bekas. Saya datang ke sini (Purwakarta) naik mobil sayur dan sekarang sudah kehabisan ongkos. Dua anak saya ini dari siang, bahkan belum makan, uang tersisa di saku hanya tinggal Rp 5.000 lagi,” ujar Siti.

Siti mengaku bingung mau pulang ke mana, karena dua hari lagi rumah kontrakannya yang ada di Cicalengka sudah habis dan harus segera pindah.

“Sementara uang sudah tidak punya. Satu-satunya cara adalah menemukan suami saya,” tambah dia.

Hingga kemarin malam, ibu dan dua orang anak itu masih berada di Kantor Koramil Plered.

Jika tidak menemukan suaminya, Siti mengaku akan mencari panti asuhan untuk menitipkan dua orang anaknya.

Semoga keberadaan suami Siti segera ditemukan. Agar kedua anaknya juga dirawat dengan baik.
Share:

Kamis, 25 Agustus 2016

Naik Haji dari Tabungan Hasil Jualan Daun Pisang Selama 20 Tahun

Ponirep (90), warga Dusun Purwodadi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang berangkat haji dari hasil menabung uang penjualan daun pisang, tiba di Asrama Haji Bandarlampung, Selasa (23/8). Foto: Alam Islam/Radar Lampung/JPNN.com

PEREMPUAN sepuh itu namanya Ponirep. Usia warga Dusun Purwodadi, Desa/Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Lamsel), itu kini mencapai 90 tahun. Kendati sudah uzur, buyut tujuh cicit ini tercatat sebagai salah satu calon jamaah haji (CJH) asal Lamsel yang rencananya berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

Tidak mudah baginya bisa menyandang status CJH. Sebab selama 20 tahun, ia dengan gigih menabung untuk menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Uang tabungan itu didapatnya dari berjualan daun pisang.

Saat Radar Lampung (Jawa Pos Group) menyambangi kediamannya yang hanya berukuran 6 x 9 meter kemarin (22/8), Ponirep tengah berada di samping rumah. Kala itu, ia sedang mengambil daun pisang menggunakan galah yang ujungnya terpasang pisau. Di pekarangan itu terlihat 15 batang pohon pisang berdiri.

Ibu empat anak ini memang sejak 1965 tinggal di rumah tersebut. Suaminya sejak 12 tahun lalu sudah meninggal dunia. Di rumah itu, ia tinggal bersama anak bungsunya. 
Usai mengambil daun pisang, Ponirep memotong daun tersebut dari tangkainya dan disusun menjadi beberapa bagian. Daun pisang itu lantas dijualnya ke Pasar Sidomulyo yang dititipkan kepada kerabatnya.

Dari hasil penjualan daun pisang itu, Ponirah mendapatkan uang sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Setengah dari hasil penjualan daun pisang langsung ditabungkannya.
’’Sudah lama saya menabung untuk naik haji. Sekitar 20 tahun. Dari hasil jual daun pisang ini saya sisihkan,” kata Ponirep.

Dia mengaku sudah puluhan tahun ingin naik haji. Namun dikarenakan uang yang dimiliki belum cukup, ia menabung sedikit demi sedikit. 

’’Supaya selamat dunia-akhirat dengan menuntaskan rukun Islam yang kelima,” kata nenek yang bahasa Indonesia-nya kurang lancar ini.

Sumijo (54), anak kedua Ponirep, mengatakan, ibunya menabung selama ini tanpa diketahui anak dan cucu-cucunya. Bahkan, dia mengaku sempat kaget saat empat tahun lalu diminta ibunya untuk mendaftarkan naik haji.

’’Saya tahunya 4 tahun lalu Mas, ibu meminta saya untuk mengantarkannya mendaftar naik haji. Saya sempat heran, dari mana dia dapat uang. Ternyata selama ini ibu menabung,” kata Sumijo kemarin.

Sejak saat itu, sambung Sumijo, ibunya terus menitipkan uang kepadanya untuk ditabung di bank buat membayar haji. ’’Ibu orangnya tertutup. Saya tidak boleh menceritakan ke siapa-siapa kalau ibu mau naik haji,” tuturnya.

Sedangkan Tukimin Hidayat (30) mengatakan, sang nenek hanya sendirian naik haji. Tidak ada satu pun keluarganya yang menemani. Dia mengatakan, neneknya hanya ikut yayasan.
’’Jadi kami sekeluarga sudah ikhlas jika terjadi sesuatu dengan nenek,” ucapnya.
Kades Sidomulyo Sutanto mengatakan, Ponirep merupakan CJH tertua dari Lamsel. Menurut dia, dari kisah Ponirep ini membuktikan bahwa tidak hanya orang kaya yang dapat naik haji, tetapi orang miskin pun dapat melaksanakannya dengan tekad yang kuat.
’’Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, Nenek Ponirep yang menabung dengan sungguh-sungguh dapat naik haji,” ucapnya.

Kendati sudah berumur 90 tahun, semangatnya masih terlihat jelas untuk menunaikan haji tahun ini. Buyut dari 7 cicit ini mengatakan selain untuk mencari kebahagiaan di akhirat nanti, di Tanah Suci ia akan mendoakan semua orang yang membantunya untuk bisa naik haji.

Saat ditemui Radar Lampung, Mbah Ponirep terlihat sedang melakukan Shalat Ashar.

“Ketika di tanah suci nanti, InsyaAllah Saya akan berdoa untuk keselamatan dunia akhirat, untuk suami saya yang sudah meninggal, untuk anak-anak agar sukses, dan juga untuk semua yang telah membantu saya, semoga bisa naik haji juga” ujarnya pada Radar di kamar 1 gedung 1 Asrama Haji Rajabasa, Selasa (23/8).

Di Tanah Suci, ia juga akan mendoakan tetangganya yang mengalami kelumpuhan, dan orang-orang yang mengadakan pengajian untuk almarhum suaminya. “Doakan saya juga agar kuat ketika melakukan rangkaian haji nanti, saya sudah pasrah sama Allah, semoga diberikan kekuatan,” ujarnya.

Ia yang naik haji sendirian tanpa ditemani keluarganya ini mengaku tidak membawa barang banyak. Hanya beberapa helai baju, pakaian ihrom, peralatan mandi dan obat untuk kakinya yang terkadang merasa linu ketika berjalan.

“Saya punya sedikit katarak dan pendengaran yang kurang jelas, ini cuma bawa obat tablet untuk kaki yang kadang linu. Kemarin dibelikan sama anak ada beberapa pack obat itu dan vitamin untuk di Tanah Suci,” jelasnya.

Selain obat tablet satu jenis untuk kakinya, ia juga sudah disuntik di bagian jari-jari kaki untuk mengatasi sakit kakinya yang kadang kambuh itu.

Dia berjalan dengan pelan dan ketika melewati lorong kamar harus berpegangan pada tembok. Kadang ia meminta bantuan untuk membawakan tas hajinya. Namun ia mengaku cukup kuat untuk melakukan tawaf nanti di Tanah Suci.

“Ya pelan-pelan thawaf nya, semoga kuat dan diberi kesehatan terus,” pungkasnya. (jpnn.com)
Share:

Rabu, 24 Agustus 2016

Luar Biasa.! ! ! Polisi Baik Hati Ini Keliling Kampung mencari warga miskin untuk disantuni.



Anggota Kepolisian dari Polres Kotabaru bernama Aiptu Murjianto memiliki aktivitas yang sangat luar biasa yaitu mencari warga miskin untuk kemudian diberikan santunan.

Aiptu Murjiyanto biasa memanggul sendiri santunan yang akan diserahkan kepada warga miskin yang membutuhkan, seperti beras atau bahan makanan lainya.

Untuk melakukan aksi sosialnya ini, Aiptu Murjiyanto menggalang dana dari warga yang mampu untuk kemudian disalurkan kepada warga yang tidak mampu.

Menariknya, Aiptu Mujianto hanya hanya menerima bantuan dari warga dalam nominal uang seribuan dan menolak uang pecahan seratus ribu.

“Kalau uang seratus ribu aku ndak mau terima, kalau seribu aku terima. Takutnya nanti dikira polisi korupsi, dan ini juga cuma ajarkan anak-anak nabung” Ujar Aiptu Murjiyanto sebagaimana dilansir kalsel.prokal.co, senin (8/2/2016).

Aksi Aiptu Murjiyanto ini mendapat dukungan luas dari masyarakat setempat, khususnya diwilayah Serongga Kota Baru. Dukungan juga mengalir dari Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto.

“Sangat baik. Karena itu meningkatkan kemitraan antara polisi dan masyarakat. Polisi sahabat masyarakat harus terwujud,” puji AKBP Suhasto kepada Aiptu Murjiyanto. (im)

Sumber : radarbanjarmasin.co.id
Share:
loading...
Diberdayakan oleh Blogger.
Featured Posts

Most selected posts are waiting for you. Check this out

Stats

Comments

Recent Posts

loading...

Video

Find us on Facebook

LIke Us

Popular Posts

Blog Archive

Featured Post

Mahasiswa Pemasang Poster 'Garudaku Kafir' Menyesali Perbuatannya

Garudaku Kafir TRIBUNEWS.COM, SEMARANG - Rektor Universitas Diponegoro, Yos Johan Utama, memerintahkan Dekan Fisip memproses penempel po...

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support